5 Oktober 2014

Qurban . . .






Sama seperti tahun lalu, lebaran haji kali ini saya pun tidak pulang kampung. Bedanya mungkin, kalau tahun lalu karena saya mengemban amanah kepengurusan di organisasi mahasiswa yang saya geluti sehingga tidak memungkinkan untuk pulang. Sementara kali ini saya tidak pulang kampung karena lebih alasan benturan mengajar di sekolah dan katong yang sedang kurus kering sekali.

Sudah menjadi kebiasaan barangkali saya dan teman-teman satu organisasi dimana kita juga tinggal gratis di sana selalu bangun kesiangan. Bagaimana tidak, hampir tiap malam kita begadang. Membaca buku, menulis, mengerjakan tugas kuliah, nonton film, main game, atau sekedar haha hihi sampai larut, bahkan shubuh. Untungnya saya bukan tipe yang kuat tidur larut, alias pelor. Saya pun tidak terlalu peduli ketika teman-teman saya ngecengin saya itu tukang tidur.

Bagi saya, tidur itu soal kebutuhan yang pada dasarnya setiap orang punya porsi yang sama, katakanlah 8 jam atau minimal 4 jam dalam sehari.  Barangkali yang membedakanya, kapan kita tidur?

Maka ketika teman-teman saya masih terjaga, saya sudah berwisata mimpi. Sementara ketika saya bangun tidur, mereka baru saja memulai membuat pulau!
Begitu pula yang terjadi pagi ini. Saya bangun sebelum kemudian membangunkan dua teman saya untuk sholat hari raya. Itu pun dengan segenap kantuk disertai malas-malasan. Untungnya, tempat kami sholat letaknya tak jauh, di sebuah sekolah persis di samping kampus kami.

Tak lama setelah kami sampai, segenap jama’ah menjalankan ibadah sholat hari raya idhul adha yang cukup khusyuk. Selepasnya, kita pun mendengarkan khutbah. Isi khutbah berkisar tentang pengulangan cerita perintah Alloh kepada Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail. Selebihnya, adalah pengayaan cerita dan pelajaran yang dapat kita ambil atasnya. Isi khutbah semacam itu saya telah mendapatinya semenjak saya SD. Kita semua nyaris hapal dengan cerita seruan penyembelihan ismail. Beberapa dari kita maklum, ya memang seperti itulah isi khutbah sholat hari raya haji.

Saya merasa hal semacam ini yang membuat islam mengalami kemandekan. Dalam masyarakat kita, seorang ustad atau kyai menjadi mercusuar berkiblat dalam memperoleh pengetahuan agama. Pendidikan agama nyaris berangkat dan berasal dari para ustad atau kyai. Kita beragama bergantung pada ustad dan kyai. Lewat kata, ucapan, perintah yang terlontar dari seorang kyai, kita mendapati cermin watak islamiah yang hendak disebarluarkan, diamini.

Saya adalah bagian dari masyarakat yang semenjak kecil belajar agama lewat berbagai agenda pengajian di kampung. Kami tidak mengenal Quran terjemah. Kami tidak mengerti, bahkan untuk sekedar mempertanyakan apa isi ayat demi ayat yang kami baca. Bagi kami, kyai adalah penyambung isi Quran. Kami meyakini, pak kyai sudah khatam isi Quran. Kepada beliau lah kami belajar agama.

Kini setelah dewasa saya mulai bertanya. Mengapa di kampung-kampung, kita tidak diajarkan mengaji ayat-ayat berbahasa arab itu dengan terjemahan bahasa ibu kita? Bukankah kita seperti orang buta ketika membaca ayat tanpa mengerti apa yang sebenarnya kita baca? Bukan kah Quran diturun kan sebagai petunjuk? Bagaimana kita mendapatkan petunjuk bila kita tidak mengerti sama sekali isi Quran yang kita baca?

Apabila kita telisik sejarah, para kyai, mubaliq, atau sunan, memiliki posisi penting dalam sejarah penyebarluasan islam. Mereka menjadi tokoh rakjat yang dikisahkan turun temurun. Surau-surau dan pesantren menjadi pusat  penyebaran dan belajar ilmu agama. Baru ketika masa kolonial, pola-pola pendidikan agama mengalami perubahan ketika pemerintah belanda mendirikan sekolah-sekolah rakjat. Situasi ini terus berlanjut sampai sekarang, nasib pendidikan agama nyaris dibebankan semua pada sekolah.

Meskipun begitu, para kyai tetap menjadi tokoh rujukan untuk belajar agama. Sedikiti dari kita yang belajar agama lewat Quran, dari teks-teks sejarah islam. Kita belum belajar agama dari buku. Kita mengalami kemandekan, agama masih diajarkan seperti 1500 tahun lalu, yakni lewat lisan. Belajar agama lewat teks belum menjadi rujukan di zaman ini.

Saya sebenarnya orang yang selalu menantikan sebuah khutbah yang berisi kisah, nukilan ajaran agama yang menarik. Tetapi saya saya sering dikecewakan oleh pengulangan isi khutbah seperti kisah penyembelihan Ismail itu. Atau pengulangan isi-isi khutbah seperti tentang keutamaan puasa ini dan itu, rahasia sholat shubuh, tentang iming-iming pahala. Saya protes kepada para kyai.

Saya memang cerewet dan banyak meminta dari agama yang saya yakini. Karena saya yakin agama saya ini tidak sekedar mengajarkan perihal yang berkutat iming-iming pahala dan surga.  Banyak hal baik dari agama yang dibawa oleh Muhammad ini. Agama saya ini mengajak kita pada fastabiqul khoirat, untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Ber-qurban hanyalah bagian kecil dari perintah ini.

Rasanya perintah ber-Qurban bukan sekedar menjalankan kewajiban agama, ibadah untuk menghapuskan dosa-dosa dan mendapatkan pahala, apalagi semata untuk pamer atau ri’ya kepada orang lain. Qurban adalah ajaran humanis yang penuh rasa kemanusiaan yang adil, beradab dan agamis. Qurban adalah ibadah yang sangat pancasilais.

Ber-qurban pun tak melulu potong kambing atau sapi. Setiap orang berkesempatan untuk Qurban kok.  Makna qurban adalah apa yang seringkali kita pikir adalah milik dan hak kita sebenarnya bukan milik kita sama sekali. Menjadi pejabat ternyata bukan milik kita apalagi milik partai politik, tetapi pejabat adalah milik rakyatnya. Menbeli bensin bersubsisi ternyata bukan hak kita, tetapi ternyata ada yang lebih berhak mendapatkan bensin bersubsisi itu. Lolos CPNS lalu menjadi pegawai negeri sipil ternyata bukan rezeki kita, bukan pula menjadi pegawai pemerintah yang dituntut netral, sebab ternyata menjadi PNS itu ya mengabdi kepada sipil. Ber-Qurban itu . . . . 

Ustadz, andai kita semua mau Qurban?